Sikap Sosial
Dosen Pengampu : Cici Yulia, M.Pd.
Disusun sebagai Tugas Mata Kuliah Bimbingan dan Konseling Sosial
Disusun Oleh :
Agnesti Prisilia 1601015029
Amanda Mayzuhra Tompo 1601015068
Vadhilah Oktaviyane 1601015113
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA
2017
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Bimbingan dan Konseling Sosial tentang Sikap Sosial.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah Bimbingan dan Konseling Sosial tentang Sikap Sosial ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.
Jakarta, 06 Desember 2017
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Istilah sikap dalam bahasa inggris disebut “anttitude” pertama kali diguakan oleh Herbert Spencer (Ahmadi, abu.1991). yang menggunakan kata ini untuk menunjuk suatu status mental seseorang, menurut para ahli sosiologi dan psikologi perhatian pada sikap berakar pada alasan perbedaan individual. Mengapa individual yang berbeda memperlihatkan tingkah laku yang berbeda didalam situasi yang sebagian besar gejala ini diterangkan oleh adanya perbedaan sikap. Sedang menurut ahli sosiologi sikap memiliki pengertian yang lebih besar untuk menerangkan perubahan sosial dan kebudayaan. Kita telah ketahui bahwa orang yang berhubungan dengan orang lain tidak hanya berbuat begitu saja. Tetapi juga menyadari perbuatan yang dilakukan dan menyadari pula situasi yang ada sangkut pautnya dengan perbuatan itu. Kesadaran ini tidak hanya mengenai tingkah laku yang sudah terjadi, tetapi juga tingkah laku yang yang sudah terjadi. Kesadaran individu yang menentukan perbuatan nyata dan perbuatan- perbuatan yang mungkin akan terjadi itulah yang dinamakan sikap. Jadi sikap adalah suatau hal yang menentukan sikap sifat, hakekat, baik perbuatan sekarang maupun berbuatan yang akan datang.
Sikap sebagai kesediaan untuk bereaksi secara positif atau secara negatif terhadap objek- objek tertentu. Sebagaimana respon nyata lainnya, sikap berfungsi mengurangi ketegangan yang dihasilkan oleh motif- motif tertentu fungsi ini dapat dilakukan dalam kesadaran yang penuh dan bisa pula berupa bagian dari suatu proses yang tidak disadari. Dengan demikian, tidak semua sikap merupakan tolok ukur untuk melihat motif tidak disadari yang mendasarinya. Dalam proses interaksi antar indivudu tidak terlepas dari adanya suatu sikap social yang dilakukan oleh suatu individu yang berpengaruh pada kelangsungan kehidupan social.
RUMUSAN MASALAH
Apa Konsep Dasar Sikap Sosial?
Bagaimana Sikap Individual dan Sikap Sosial?
Bagaimana Pembentukan dan Perubahan Sikap Sosial?
Bagaimana Metode dan Pengukuran Sikap?
TUJUAN PENULISAN MAKALAH
Untuk Mengetahui Konsep Dsar Sikap Sosial
Untuk Menetahu Sikap Individu dan Sosial
Untuk Mengetahui Pembentukan dan Perubahan Sikap Sosial
Untuk Mengatahui Metode dan Pengukuran Sikap
BAB II
PEMBAHASAN
Konsep Dasar Sikap Sosial
Pengertian Sikap Sosial
Istilah sikap dalam bahasa Inggris disebut attitude, sedangkan istilah attitude berasal dari bahasa Latin, yaitu aptus yang berarti keadaan siap secara mental, yang bersifat melakukan kegiatan. Trandis mendefinisikan sikap sebagai “an attitude ia an idea charged with emotion which predis poses a class of actions to aparcitular class of social sitation”.
Rumusan diatas diartikan bahwa sikap mengandung tiga komponen, yaitu komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen tingkah laku. Sikap social berkenaan dengan suatu objek disertai dengan perasaan positif atau negative.
Secara umum, dapat disimpulkan bahwa sikap adalah kesiapan yang senantiasa cenderun berperilaku atau bereaksi denan cara tertentu jika dihadapkan denan suatu masalah atau obejek. Oleh karena itu, banyak sosiologi dan psikolog meberi batasan bahwa sikap merupakan kecenderungan individu untuk merespons dengan cara yang khusus terhadap stimulus yang ada dalam lingkungan social.
Howard dan Kendler (1974) memberi batasan bahwa sikap merupakan kecenderungan untuk mendekat atau menghindar, psitif atau negatif terhadap berbagai kedaan sosial, seperti institusi,pribadi, situasi, ide, konsep, dan sebagainya.
Sarlito Wirawan mendefinisikan sikap sebagai kesiapan pada seseorang untuk bertindak terhadap hal-hal tertentu.
Dalam kamus psikologi, sikap diartikan sebagai kecenderungan untuk memberi respons, baik positif maupun negative terhadap orang, benda, atau situasi tertentu.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, sikap adalah kesadaran individu untuk bertindak dalam menangapi objek dan terbentuk berdasarkan pengalaman. Adapun social merupakan sesuatu yang berkenaan dengan hubungan antar orang atau kelompok ataupun berkenaan dengan pengaruh atau kelompok antara satu sama lain. Jadi, sikap social adalah kesadaran individu untuk bertindak secara nyata dan berulang-ulang terhadap objek social berdasarkan pengalamannya. Dalam pengertian lain, sikap adalah perbuatan sebagai reaksi terhadap suatu rangsangan yang disertadi dengan pendirian perasaan seseorang.
Ciri-ciri Sikap
Sikap merupakan faktor yang ada pada diri manusia yang dapat mendorong atau menimbulkan perilaku tertentu. Sekalipun demikian, sikap mempunyai segi-segi perbedaan dengan pendorong lain yang ada dalam diri manusia. Menurut Bimo Walgito (1994) ada beberapa cirri dari sikap, yaitu sebagai berikut:
Selalu menggambarkan antara subjek dan objek. Objek dapat berupa benda, orang, ideolohi, nilai-nilai social, lembaga masyarakat dan sebagainya
Tidak dibawa sejak lahi, tetapi dipelajari dan dibentuk berdasarkan pengalaman dan latihan
Karena dapat dipelajari, sikap dapat berubah-ubah (meskipun untuk merubahnya relative sulit)
Tidak akan hilang meskipun kebutuhan sudah terpenuhi
Tidak hanya satu macam, tetapi sangat beragam sesuai dengan objek yang menjadi perhatian subjek
Ada faktor motivasi dan perasaan yang membedakannya dengan pengetahuan.
Fungsi Sikap
Fungsi (tugas) sikap menurut Abu Ahmad, dapat dibagi menjadi empat golongan berikut:
Penyesuain Diri
Sikap berfungsi sebagai alat untuk menyesuaikan diri. Sikap merupakan sesuatu yang bersifat communicable, artinya mudah menjalar sehinga mudah pula menjadi milik bersama. Oleh karena itu, suatu golongan yang mendasarkan atas kepentingan bersama dan pengalaman bersama ditandai oleh sikap anggotanya yang terhadap suatu objek. Dengan demikian, sikap dapat menjadi rantai penhubung antara seseorang dengan kelompoknya atau dengan kelompok yang lain.
Pengatur tingkat penyesuaian
Sikap befungsi sebgai alat pengatur tingkah laku. Kita mengetahui bahwa tingkah laku anak kecil dan hewan pada umumnya merupakan aksi-aksi yang spontan terhadap sekitarnya. Antara perangsang dan reaksi tidak ada pertimbangan, tetapi pada umumnya tidak diberi reaksi secara spontan. Akan tetapi, terdapat proses secara sadar untuk menilai perangsang.
Alat Pengatur Pengalaman
Sikap berfungsi sebagai alat pengatur pengalaman. Dalam hal ini perlu dikemukakan bahwa sikap manusia dalam menerima pengalaman dari dunia luar tidak pasif, tetapi diterima secara aktif, artinya semua pengalaman yang berasal dari luar tidakk semuanya dilayani oleh manusia, tetapi manusia memilih hal-hal yang perlu dan yang tidak perlu dilayani. Jadi, manusia setiap saat mengadakan pilihan dan tidak semua perangsang dapat dilayani.
Pernyataan Kepribadian
Sikap sering mencerminkan kepribadian seseorang. Hal ini dikarenakan sikap tidak pernah terpisah dari pribadi yang mendukungnya. Oleh karena itu, dengan melihat sikap pada objek-objek tertentu, sedikit banyak orang dapat mengetahui pribadi orang tersebut.
Komponen Sikap
Tiap- tiap sikap, menurut Ahmadi mempunya 3 aspek berikut :
Aspek Kognitif : Berkaitan dengan gejala mengenai pikiran. Aspek ini berwujud pengolahan, pengalaman, dan keyakinan, serta harapan individu tentang objek atau kelompok objek tertentu. Aspek ini berupa pengetahuan, kepercayaan, atau pikiran yang didasarkan pada informasi, yang berkaitan dengan objek.
Aspek Afektif : Berwujud proses yang berkaitan dengan perasaan tertentu, seperti ketakutan, kedengkian, simpati, antipati, dan sebagainya yang ditujukan pada objek- objek tertentu.
Aspek Konatif : Berwujud proses tendensi/ kecenderungan untuk berbuat suatu objek, misalnya kecenderungan memberi pertolongan, menjauhkan diri, dan sebagainya.
Tingkatan Sikap
Menurut Soekibjo Notoatmojo, 1996 sikap terdiri atas berbagai tingkatan
Menerima (receving), bahwa orang atau subjek mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan objek.
Merspons (responding), memberikan jawaban apabila ditanya. Mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan merupakan indikasi sikap karena dengan usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas pekerjaan itu benar atau salah, dengan member respons berarti orang itu menerima ide tersebut
Menghargai (valuing), yaitu menajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah.
Bertanggung jawab (responsible) yaitu bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resikonya.
Sikap Individual dan Sikap Sosial
Sikap Individual
Sikap yang berkaitan dengan orang peroangan, berkaitan dengan perbedaan individual perseorangan. Cirri dan sifat orangg yang satu berbeda dengan yang lain. Sikap dapat pula dibedakan menjadi:
Sikap positif, menunjukan atau memperlihatkan, menerima, mengakui, menyetujui, serta melaksanakan norma-norma yang berlaku ditempat individu itu berada.
Sikap negative, menunjukan atau memperlihatkan penolakan atau tidak menyetujui norma-norma yang berlaku ditempat individu itu berada.
Sikap Sosial
Makna sikap social
Sikap sosial tidak hanya dinyatakan oleh seorang tetapi diperhatikan oleh orang-orang sekelompoknya objeknya adalah objek social. Dengan demikian, yang menandai adanya sikap soaial adalah:
Subjek orang-orang dalam kelompoknya;
Objek-objeknya sekelompok, objeknya social;
Dinyatakan berulang-ulang.
Bentuk-Bentuk Sikap Sosial
Sikap positif
Dalam buku interaksi social dijelaskan bahwa bentuk sikap social yang poositif seseorang, yaitu berupa tenggang rasa, kerjasama, dan solidaritas. Berikut ini dijelaskan secara tingkat dari bentuk sikap social tersebut
Aspek kerjasama
Kerjasama merupakan suatu hubungan saling membantu dari orang-oran atau kelompok. Menurut Abu Ahamadi kerjasama merupakan kecenderungan untuk bertindak dalam kegiatan kerja bersama-sama menuju suatu tujuan. Cirri-ciri orang yang mampu bekerjasama adalah berperan dalam berbagai kegiatan gotong royong, tidak membiarkan teman atau keluarga mengalami suatu masalah secara sendiri, dan bersikap mengutamakan hidup bersama, berdiri sama tinggi, dan duduk sama rendah.
Aspek solidaritas
Solidaritas merupakan saah satu bentuk sikap social yan dapat dilakukan seseorang dalam melihat ataupun memperhatikan orang lain, terutama seseorang yang megalamisuatu masalah.
Aspek tenggang rasa
Tenggang rasa merupakan perwujudan sikap dan perilaku seseorang dalam menjaga, menghargai, dan menghormati orang lain.
Sikap Negatif
Egoisme,yaitu bentuk sikap seseorang yang merasa dirinya paling unggul dalam segalanya tidak ada orang atau benda apapun yang mampu menjadi pesaingnya.
Prasangka social, merupakan sikap negative yang diperlihatkan oleh individu atau kelompok terhadap individu lain atau kelompok lain.
Rasisme, yaitu sikap yang didasarkan pada kepercayaan bahwa suatu cirri yang dapat diamati dan dianggap diwarisi, seperti warna kulit merupakan tanda perihal inverioritas yang membenarkan perlakuan diskriminasi terhadap orang-orang yang mempunyai cirri-ciri tersebut.
Rasialisme, penerapan sikap diskiriminasi terhadap kelompok ras lain. Misalnya, diskriminasi ras yang pernah terjadi di Afrika Selatan
Stereotip, yaitu citra kaku mengenai suatu rasa tau budaya yan dianut tanpa memperhatikan kebenaran citra tersebut. Mislnya, steorotip masyarakat Jawa adalah lemah lembut dan lamban dalam melakukan sesuatu. Stereotip tersbut tidak selalu benar karena tidak semua orang Jawa memiliki sifat tersbut.
Pembentukan dan Perubahan Sikap
Sikap timbul karena adanya stimulus. Terbentuknya suatu sikap banyak dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan kebudayaan, seperti keluarga, norma, golongan agama, dan adat istiadat. Keluarga memiliki peran penting dalam membentuk sikap seseorang.
Pembentukan Sikap
Pembentukan senantiasa berlangsung dalam interaksi manusia dan berkaitan dengan objek tertentu. Interaksi sosial dalam kelompok dan luar kelompok dapat mengubah sikap atau membentuk sikap yang baru. Interaksi di luar kelompok adalah interaksi dengan hasil buah kebudayaan manusia yang sampai kepadanya melalui media komunikasi, seperti surat kabar, radio, televisi, buku atau risalah.
Perubahan Sikap
Sikap tidak selamanya tetap, dapat berkembang ketika mendapat pengaruh, baik dari dalam maupun dari luar yang bersifat negatif dan mengesan. Sikap seseorang dapat dibentuk ataupun diubah melalui beberapa cara antara lain sebagai berikut:
Adopsi
Kejadian yang terjadi secara berulang-ulang dan terus-menerus secara bertahap diserap dalam diri individu dan memengaruhi terbentuknya sikap
Diferensiasi
Karena adanya perkembangan pengalaman, inteligensi, dan pengetahuan, ada hal yang semula dianggap sejenis, kini dianggap tersendiri dan lepas dari jenisnya. Objek tersebut dapat terbentuk pula sikap sendiri.
Integrasi
Pembentukan sikap terjadi secara bertahap, dimulai dengan berbagai pengalaman yang berkaitan dengan satu hal tertentu sehingga terbentuk sikap mengenai hal tersebut.
Trauma
Pengalaman yang tiba-tiba dan mengejutkan, yang meninggalkan kesan mendalam pada jiwa orang yang bersangkutan. Pengalaman yang traumatis akan menyebabkan terbentuknya sikap.
Generalisasi
Pengalaman traumatik yang dialami seseorang pada beberapa hal tertentu dapat menimbulkan sikap negatif pada semua hal yang sejenis.
Faktor-faktor Penyebab Perubahan Sikap
Menurut Bimo Walgito adalah sebagai berikut.
Faktor Internal
Faktor yang berasal dalam diri manusia. Faktor ini berupa selectivity atau daya pilih seseorang untuk menerima dan mengolah pengaruh-pengaruh yang datang dari luar. Pilihan terhadap pengaruh dari luar disesuaikan dengan motif dan sikap dalam diri manusia, terutama yang menjadi minat perhatiannya.
Faktor Eksternal
Faktor atau hal-hal atau keadaan yang ada di luar diri individu, yang merupakan stimulus untuk membentuk atau mengubah sikap. Faktor ini berupa interaksi sosial di luar kelompok. Misalnya, interaksi antara manusia yang dengan hasil kebudayaan yang sampai padanya melalui alat-alat komunikasi.
Sherif, mengemukakan bahwa sikap dapat diubah atau dibentuk apabila :
Terdapat hubungan timbal balik yang langsung antara manusia;
Adanya komunikasi (yaitu, hubungan langsung) dari suatu pihak.
Hubungan antara Sikap dan Tingkah Laku
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Warner dan De Fleur (1996) diidentifikasi tiga postulat hubungan antara sikap dan tingkah laku, yaitu sebagai berikut:
Postulat Keajekan
Sikap verbal merupakan alasan yang masuk akal untuk menduga hal-hal yang akan dilakukan oleh seseorang apabila berhadapan dengan objek sikapnya. Dengan kata lain, ada hubungan langsung antara sikap dan tingkah laku.
Postulat Ketidakajekan
Postulat ini membantah adanya hubungan yang konsisten antara sikap dan tingkah laku. Sikap dan tingkah laku adalah dimensi individual yang berbeda dan terpisah. Dengan kata lain, sikap dan tingkah laku tidak bergantung satu sama lain.
Postulat Konsistensi Kontingen
Postulat ini mengusulkan bahwa hubungan antara sikap dan tingkah laku bergantung pada faktor-faktor situasi tertentu pada variabel antara. Pada situasi tertentu dapat diharapkan adanya hubungan antara sikap dan tingkah laku, dan dalam situasi lain, hubungan tersebut tidak terjadi. Postulat ini dapat menerangkan hubungan antara sikap dan tingkah laku.
Metode dan Pengukuran Sikap
Metode Memahami Perubahan Sikap
Metode langsung, meminta seseorang secara langsung untuk menyampaikan pendapatnya mengenai objek tertentu. Metode ini mudah pelaksanaannya, tetapi hasilnya kurang dipercayai.
Metode tidak langsung, meminta seseorang untuk menyatakan dirinya mengebai objek tertentu secara tidak langsung. Misalnya, dengan menggunakan tes psikologi dapat mendaftarkan sikap-sikap dengan cukup dalam.
Tes tersusun, tes menggunakan skala sikap yang dikontruksikan terlebih dahulu menurut prinsip-prinsip tertentu.
Tes yang tidak tersusun, misalnya wawancara, daftar pertanyaan, dan penelitian bibliografi.
Pengukuran Sikap Secara Langsung
Pengukuran sikap secara langsung pada umumnya menggunakan tes psikologi berupa sejumlah item yang telah disusun secara hati-hati, saksama, selektif sesuai dengan kriteria tertentu. Adapun macam-macam pengukuran skala yang sering digunakan, yaitu sebagai berikut:
Skala Thurstone
L.L. Thurstone (1928) peecaya bahwa sikap dapat diukur dengan skala pendapat. Mula-mula mengukur sikap ini terdiri atas sejumlah daftar pertanyaan yang diduga berkaitan dengan sikap.
Metode Thurstone terdiri atas kumpulan pendapat yang memiliki rentangan dari sangat positif ke arah sangat negatif terhadap objek sikap. Pernyataan itu kemudian diberikan kepada sekelompok individu yang diminta untuk menentukan pendapatnya pada suatu rentangan sampai 11, dengan membubuhkan angka 1 yang mencerminkan paling positif (menyenangkan) dan angka 11 mencerminkan paling negatif (tidak menyenangkan). Prosedur Thurstone untuk menciptakan sejumlah pertanyaan ini cukup kompleks.
Skala Likert
Rensis Likert mengembangkan satu skala beberapa tahun setelah Thurstone. Likert juga menggunakan sejumlah pertanyaan untuk mengukur sikap yang mendasarkan pada rata-rata jawaban. Dalam pertanyaannya, Likert menggambarkan pandangan yang ekstrem masalahnya. Setelah pertanyaan itu dirumuskan, Likert membagikannya kepada sejumlah responden yang akan diteliti. Ia meminta responden untuk menunjukkan tingkatan setuju atau tidak pada setuap pertanyaan dengan lima pilihan skala: sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju, sangat tidak setuju.
Skala Bogardus
Emery Bogardus pada tahun 1925 menemukan skala yang disebut skala jarak sosial, yang secara kuantitatif mengukur tingkatan jarak seseorang yang diharapkan dapat memelihara hubungan orang dengan kelompok lain. Responden diminta untuk mengisi atau menjawab pertanyaan satu atau semua dari tujuh pertanyaan untuk melihat jarak sosial terhadap kelompok etnis grup lainnya.
Skala Perbedaan Semantik
Dikembangkan oleh Osgood, Suci, dan Tennerbaum (1957) yang meminta responden untuk menentukan sikapnya terhadap objek sikap, pada ukuran yang terdahulu. Responden diminta untuk menentukan ukuran skala yang bersifat berlawanan, yaitu positif atau negatif, baik-buruk, aktif-pasif, bijaksana-bodoh, dan sebagainya. Skala ini terbagi atas 7 ukuran dan angka 4 akan menunjukkan ukuran yang secara relatif netral. Skor sikap dari individu diperoleh dengan mentallies (menjumlah) semua jawaban. Skor yang lebih tinggi berarti lebih positif sikapnya terhadap objek, orang, atau masalah lain yang ditanyakan.
Pengukuran Skala Secara Tidak Langsung
Teknik pengukuran tidak langsung sebagaimana dirumuskan oleh Whittaker (1970). Di dalam teknik tidak langsung, subjek tidak mengetahui bahwa tingkah laku atau sikapnya sedang diteliti. Teknik tidak langsung berguna apabila responden enggan mengutarakan sikapnya secara jujur.
Dalam suatu teknik tidak langsung, seorang peneliti memberikan gambar kepada subjek, subjek diminta untuk menceritakan hal-hal yang ia lihat dari gambar itu. Subjek kemudian di-score yang memperlihatkan sikapnya terhadap orang atau situasi di dalam gambar.
Subjek diminta untuk menceritakan gambar-gambar itu dalam suatu karangan atau cerita. Akan tetapi teknik pengukuran ini menimbulkan beberapa masalah penting bagi para ahli psikologi. Sejauh mana sikap individu dapat diungkap, apabila ia tidak menyadari hal itu. Selain itu, apakah bukan suatu pelanggaran mengungkap sesuatu yang bersifat pribadi di luar pengetahuan atau kesadarannya? Apakah ini bukan pelanggaran etik? Apakah kita selalu memerlukan izin atau persetujuan dari responden? Hal inilah yang menimbulkan masalah bagi para peneliti tidak hanya pada teknik tidak langsung, tetapi juga hampir semua peneliti psikologi.
BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Sikap merupakan masalah yang penting karena sikap seseorang akan memberikan warna atau corak pada perilaku atau perbuatan orang yang bersangkutan. Sikap manusia tidak terbentuk begitu saja, tetapi terbentuk sejalan dengan perkembangan kehidupannya. Sikap (attitude) mempunyai peran besar sebab sikap yang sudah terbentuk pada diri manusia turut menentukan tingkah lakunya dalam menghadapi suatu objek. Sikap diartikan sebagai kecenderungan untuk memberi respons, baik positif maupun negatif terhadap orang, benda, atau situasi tertentu. Sikap memiliki fungsi, yaitu: sebagai penyesuaian diri, pengatur tingkah penyesuaian, alat pengatur pengalaman, dan pernyataan kepribadian.
Sikap sosial tidak hanya dinyatakan oleh seseorang, tetapi diperhatikan oleh orang-orang sekelompoknya. Objeknya adalah objek sosial (objeknya banyak orang dalam kelompok) dan dinyatakan berulang-ulang. Dengan demikian, yang menandai sikap sosial adalah: subjek orang-oranf dalam kelompoknya, objeknya sekelompok atau objek sosial, dan dinyatakan berulang-ulang.
SARAN
Semoga dengan adanya makalah ini yang membahas tentang sikap, kita bisa lebih mengontrol sikap yang ada dalam diri kita sendiri dan lebih memahami karakter diri sendiri untuk menjadi diri yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Serta kita dapat menjadi lebih mudah dalam beradaptasi dengan lingkunan social.
DAFTAR PUSTAKA
Syamsul, Bambang. 2015. Psikologi Sosial. Bandung: CV PUSTAKA SETIA. Cet. I.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar